Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label cerpen abu nawas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen abu nawas. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

Abu nawas menembus hujan


Abu Nawas pernah menghancurkan barang-barang di istana tanpa bisa dicegah Baginda Raja.  Keinginan Raja untuk menangkap Abu Nawas dan menjebloskannya ke penjara begitu besar. Maka dibuatlah perintah agar Abu Nawas bisa dipersalahkan. Maka ia mengajak Abu Nawas berburu beruang. Abu Nawas tak berani menolak meskipun ia sangat takut pada beruang.
Setelah persiapan dilakukan, perburuan pun dimulai.Namun perjalanan menuju hutan itu rasa-rasanya akan terhalang karena tiba cuaca berubah mendung. Baginda Raja pun memanggil Abu Nawas. "Tahukah engkau mengapa kupanggil menghadap?" Tanya Baginda tanpa senyum. "Ampun Baginda, hamba belum tahu." 
"Sebentar lagi akan turun hujan tapi hutan masih jauh. Apapun yang terjadi, nanti saat tiba waktunya santap siang kita harus berkumpul di peristirahatanku. Nah, ... demi kelancaran perjalanan, sekarang kita berpencar. Ingatlah , jangan sampai menghadiri santap siang dengan baju basah. "
Karena Raja Harun sengaja menjebak Abu Nawas maka ia diberi kuda yang lamban. Sementara rombongan lainnya masing-masing menerima kuda yang sigap dan kuat. Maka seluruh rombongan pun mulai bergerak.
Tak lama setelah rombongan berangkat tiba-tiba turun hujan. Ia dan rombongan segera memacu kuda menuju tempat perlindungan terdekat. Meski kuda mereka lari secepat angin nyatanya mereka semua tetap basah kuyup. Ketika waktu santap siang tiba ia pun segera menuju tempat peristirahatan dengan baju basahnya.
Sebelum baju Baginda dan para pengawalnya mengering tiba-tiba Abu Nawas pun muncul dengan kudanya. Baju Abu Nawas tak tampak basah, padahal kuda-kuda tercepat pun tak bisa menghindari hujan sederas itu. Raja Harun pun dibuat makin penasaran.
demi mengalahkan Abu Nawas, pada perburuan hari kedua Baginda Raja mengubah kudanya dengan yang lamban.Sementara Abu Nawas kini memperoleh kuda yang bisa berlari cepat.
Seperti sudah diduga sebelumnya, hujan turun lagi menghadang perjalanan para pemburu. Ia dan para pengawal pun kontan basah kuyup karena kuda mereka memang tak bisa berlari kencang. Dan ketika tiba waktu untuk santap siang, Abu Nawas sudah berada di tempat peristirahatan menunggu kedatangan beliau dan para pengawal.
Saat mendatangi tempat makan, Baginda Raja keheranan menemukan Abu Nawas sudah santai dengan pakaiannya yang kering. "Terus terang saja, sebenarnya bagaimana caramu menghindari hujan?" Tanya Baginda.
"Caranya mudah saja, Tuanku yang mulia," kata Abu Nawas sambil tersenyum. "Baik kemaren maupun hari ini, hamba sebenarnya tidak bisa menghindar dari hujan. Rahasianya, begitu hujan turun hamba langsung melepas pakaian dan melipatnya. Hamba menduduki pakaian ini agar tak kehujanan. Jadi hamba menembus hujan tanpa berpakaian."
Mau tak mau Raja Harun Al Rasyid tersenyum mengakui kecerdikan Abu Nawas.

Abu nawas dan mimpi indah


Seorang pendeta dan seorang rahib berencana memperdayai Abu Nawas. Rencanapun disusun rapid an mereka segera bertandang kerumah Abu Nawas yang disambut baik oleh yang empunya rumah.
"Kami ingin mengajakmu melakukan perjalanan suci, wahai Abu Nawas. Kami berharap engkau tidak keberatan dan dapat bergabubg bersama kami, "ujar si Rahib sambil melirik pada kawan di sebelahnya.
"Dengan senang hati aku akan ikut, kapan rencananya?" Tanya Abu Nawas.
"Besok pagi ujar si Pendeta gembira.
"Baiklah kitabertemu di warung teh besok," uhar Abu Nawas.
Demikianlah keesokan harinya Abu Nawas beserta dua orang yang mengajaknya ini berangkat bersama. Mereka berpakaian dengan cara yang khas. Abu Nawas dengan pakaian sufi, si Pendeta dengan baju kebesarannya, dan si Rahib dengan pakaian keagamaannya. Di tengah perjalanan mereka bertiga mulai merasa lapar.
"Hai Abu Nawas, karena kita sudah sudah lapar dan kebetulan kita tidak membawa bekal, ada baiknya kamu mengumpulkan sumbangan untuk membeli makanan untuk kita bertiga. Kami berdua akan melakukan kebaktian, "ujar si Pendeta.
Tanpa berpikir panjang, Abu Nawas langsung beranjak pergi mencari dan mengumpulkan sumbangan dari satu dusun ke dusun yang lain. Setelah dirasa sumbangan yang diterima cukup, Abu Nawas langsung membali makanan yang cukup untuk mereka bertiga. Abu Nawaspun kembali kepada dua temannya yang tengah melakukan kebaktian.
"Mari kita bagi makanan ini sekarang juga," ujar Abu Nawas yang memang sudah sangat lapar.
"Jangan, jangan dibuka sekarang, karena kami sedang berpuasa," ujar sang Rahib.
"Tapi aku hanya akan mengambil bagianku saja, sedang bagian kalian terserah kalian," ujar Abu Nawas.
"Aku tidak setuju, kita harus seiring seirama dalam berbuat apapun," ujar si Pendeta.
"Betul aku juga tidak setuju, karena waktu makanku besok pagi," ujar si Rahib yang ahli Yoga menimpali.
Tentu saja Abu Nawas sangat usar mendengar pernyataan kedua orang itu. Perutnya yang keroncongan memaksanya kembali memperotes.
"Bukankah aku yang kalian suruh mencari derma dan sudah kukumpulkan derma itu dan sekarang telah kubelikan makanan. Mengapa kalian tidak mengizinkan aku mengambil bagianku sendiri? Sungguh tidak masuk akal, "ujar Abu Nawas memperotes.
Namun dua orang itu tetap teguh pada pendiriannya sekalipun Abu Nawas dengan segala macam cara menjelaskan tetap saja si Rahib dan Pendeta bergeming. Hal ini membuat Abu Nawas dongkol bukan main, tapi karena dirasa tidak ada gunanya menentang dua orang yang sudah bersekongkol itu, Abu Nawaspun memilih diam.
"Bagaimana kalau kita buat perjanjian?" Ujar sang pendeta tiba-tiba.
"Perjanjian apa?" Tanya Abu Nawas.
"Kita adakan lomba, siapa yang nanti malam bermimpi paling indah, maka dia berhak atas bagian makanan yang lebih banyak. Sedang yang kedua mendapat bagian lebih sedikit. Sedang yang mimpinya tidak indah mendapat bagian makanan yang paling sedikit, "ujar Pendeta dengan cerdiknya. Karena sudah dongkol dan kesal, Abu Nawas menyetujui saja perjanjian itu.
Begitu pagi sudah tiba mereka bertiga sudah bangun. Dengan sangat antusias si Rahib lalu menceritakan mimpinya.
"Luar biasa! Semalam aku bermimpi indah sekali. Aku memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirwana. Aku merasakan suatu kenikmatan dan keindahan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, "ujar Rahib dengan gembiranya.
"Mimpimu sangat menakjubkan saudara Rahib, sangat menakjubkan ...," ujar si Pendeta dengan agak berlebihan.
"Mimpiku pun tak kalah indahnya," ujar Pendeta, "Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Aku menyusup ke masa silam di mana pendiri agamamu hidup. Dan sungguh sangat membahagiakan aku bertemu dengannya dan kemudian aku diberkati olehnya, "ujar sang Pendeta dengan gembiranya.
"Seperti tadi, kini giliran Rahib memuji-muji mimpi si Pendeta. Sementara Abu Nawas diam saja melihat kelakuan dua orang yang memang bersekongkol memperdayai dirinya itu.
"Hai Abu Nawas, kenapa kau diam saja. Apa mimpimu hari, apakah seindah mimpi kami? "Ujar si Rahib dan Pendeta hamper bersamaan.
Abu Nawas yang sudah tahu dirinya tengah dikerjai, hanya berujar pelan.
"Kawan-kawanku sepengembaraan. Kalian tentu mengenal Nabi Daud. Beliau adalah Nabi yang ahli berpuasa, tadi malam aku bermimpi bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Karena aku belum makan dari pagi, maka aku bilang saja bahwa aku berpuasa. Tidak tahunya beliau menyuruhku berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani membantah perintah seorang Nabi.Makanya aku bangun dan langsung menghabiskan semua makanan, "ujar Abu Nawas dengan santainya.

Kuah di balas makjum


Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu beliau tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas. 
Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, beliau khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, "Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena."
Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitar, tapi Abu Nawas tidak tampak.
"Panggil dia kemari," perintah khalifah kepada punggawa.
Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami air mawar yang menebarkan bau sangat harum, kecuali Abu Nawas. Ia disiram dengan air kencing. 
Sadarlah Abu Nawas, bahwa dia dipermalukan khalifah didepan para pembesar negeri. Ia bungkam seribu basa, namun di dalam hati ia berkata, "Oke, khalifah, hari ini kau beri aku kuah, esok akan kubalas kamu dengan isinya."
Selesai upacara, semua orang pamitan kepada beliau dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas . 
Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang khalifah pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.
Ketika khalifah memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius. 
Beliau pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya diiringi beberapa orang petinggi pemerintah.
Mendengar khalifah menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi.Mata terpejam, tubuh tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika beliau sudah sampai di depannya.
"Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?" Tanya khalifah.
"Inilah yang disebut obat makjun," jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang."Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh, "setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.
"Kalau begitu aku juga mau makan obat makjun itu," kata khalifah.
"Baiklah, tuanku," kata Abu Nawas. "Bila paduka akan menelan obat ini, hendaklan berbaring seperti hamba sekarang ini, tidak bisa sambil duduk, apalagi dengan berdiri."
Maka beliau pun berbaring.
"Pejamkan mata tuanku," kata Abu Nawas.
Begitu mata Sultan terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan informasi makjun itu ke mulut khalifah. Tiba-tiba khalifah bangkit karena obat itu menyangkut di batang tenggorokannya. Sambil membelalakkan matanya, Sultan berkata keras-keras."Hai, Abu Nawas, kamu beri aku makan tinja ya?"
Maka Abu Nawas pun menghormat sambil berkata, "Dulu beliau memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi beliau isinya. Jika beliau tidak memberi hamba uang seratus dinar, kejadian ini akan hamba ceritakan kepada publik. "
"Diam kamu, jangan ngomong ke siapa-siapa, nanti ku beri kau uang seratus dinar," kata khalifah.
Setelah itu khalifah dan semua pengiringnya kembali ke Istana, menyiapkan pundi-pundi berisi uang seratus dinar.

Abu Nawas dan enam ekor lembu yang pandai bicara


Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di depan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan Sultan bertitah, "Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor sapi berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.
"Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku."
Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, "Mampuslah kau Abu Nawas!"
Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.
Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, "Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?"
Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, "Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid , untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. "
Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Sapi berjenggot.
Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan layanan. Lalu, Sultan berkata, "Hai Abu Nawas, dimana sapi berjenggot yang pandai bicara itu?"
Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk enam orang yang dibawanya itu, "Inilah mereka, tuanku Syah Alam."
"Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?"
"Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang," jawab Abu Nawas.
Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda.Maka berujarlah Abu Nawas, "Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa.Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka.Manusia atau hewan kah mereka ini? "Inilah sapi berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku."
Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman .Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar ke Abu Nawas.

abu nawas hamil dan ingin melahirkan

Sultan Harun Al-Rasyid masygul berat, konon, penyebabnya sudah tujuh bulan Abu Nawas tidak menghadap ke Istana. Akibatnya, suasana Balairung jadi lengang, sunyi senyap. Sejak dilarang datang ke Istana, Abu Nawas memang benar-benar tidak pernah muncul di Istana.

"Mungkin Abu Nawas marah kepadaku," pikir Sultan, maka diutuslah seorang punggawa ke rumah Abu Nawas. 

"Tolong sampaikan kepada Sultan, aku sakit dan hendak bersalin," jawab Abu Nawas kepada punggawa yang datang ke rumah Abu Nawas menyampaikan pesan Sultan. "Aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengeluarkan bayiku ini," kata Abu Nawas lagi sambil mengelus-elus perutnya yang buncit. 

"Ajaib benar," kata beliau dalam hati, setelah mendengar laporan punggawa setianya. "Baru hari ini aku mendengar kabar seorang pria bisa hamil, dan sekarang hendak bersalin. Dulu mana ada pria melahirkan. Aneh, "maka timbul keinginan Sultan untuk menengok Abu Nawas. Maka berangkatlah dia, diiringi sejumlah mentri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas. 

Begitu melihat Sultan datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyambut dan menyembah kakinya, seraya berkata, "Ya tuanku Syah Alam, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yang hina dina ini. " 

Sultan dipersilahkan duduk di tempat yang paling terhormat, sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya. "Ya tuanku Syah Alam, apakah kehendak duli Syah Alam datang ke rumah hamba ini? Rasanya bertahta selama bertahun-tahun, baru kali ini tuanku datang ke rumah hamba, "tanya Abu Nawas. 

"Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu," jawab Sultan, "Engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, sejak zaman nenek moyangku sampai sekarang, aku belum pernah mendengar ada seorang lelaki mengandung dan melahirkan, itu sebabnya aku datang kemari. " 

Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum. 

"Coba jelaskan perkataanmu. Siapa pria yang hamil dan siapa dukun beranaknya, "tanya Sultan lagi. 

Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas. "Konon, ada seorang raja mengusir seorang pembesar istana. Tetapi setelah lima bulan berlalu, tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil kembali pembesar tersebut ke Istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu saja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri. " 

Lagi pula ketika seorang mengeluarkan titah, tidak bisa mencabut perintahnya lagi, jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludahnya sendiri, itulah tanda-tanda pengecut. Oleh karena itu, harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Itulah tamsil seorang pria yang hendak bersalin, adapun dukun beranak yang ditunggu, adalah kehadiran beliau kemari, "kata Abu Nawas," Dengan kedatangan beliau kemari, berarti hamba sudah melahirkan, yang dimaksud dengan bersalin adalah hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda. " 

"Bukan begitu," kata Sultan. "Ketika aku melarang kau datang lagi ke istana, itu tidak sungguh-sungguh, melainkan hanya bergurau. Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara denganmu. Memang di sana banyak mentri, tetapi tidak seperti dirimu. Lagipula, selama engkau tidak hadir di istana, selama itu pula hilanglah cahaya Balairungku. " 

"Segala titah baginda, patik junjung tinggi tuanku," sembah Abu Nawas dengan takdzim. Tetapi Sultan cuma mengeleng-gelengkan kepala. Dan tidak seberapa lama kemudian, Sultan pun kembali ke Istana dengan perasaan heran bercampur geli. (",) v

Read more: http://mythdunia.blogspot.com/2012/07/kisah-abu-nawas-hamil-dan-hendak.html#ixzz2C105UqLV

Tertipu sandal ajaib

Cerita lucu Abu Nawas. Kampung tempat tinggal Abu Nawas lama kelamaan membuatnya merasa tak nyaman karena saking banyaknya umat Islam yang menumpuk-numpuk harta dengan menghalalkan segala cara. Otomatis hal ini membuat Abu Nawas gusar, karena sebagai seorang ulama, Abu Nawas berfikir bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran islam.

Untuk menghentikan perbuatan buruk tersebut, Abunawas memutar otak mencari ide yang tepat untuk menyadarkan banyak orang.
Setelah berpikir panjang, akhirnya ia menemukan ide cemerlang yaitu ide sandal ajaib. Dengan mengambil peralatan sederhana, berangkatlah ia ke pasar untuk gelar tikar menjual sandal-sandal.

"Sandal ajaib...sandal ajaib....sandal ajaib," kata Abunawas berkali-kali di pasar.
Sesaat kemudian muncullah salah seorang pemuda yang melihat-lihat barang dagangannya.
"Silahkan Tuan, mau mencari apa?" tanya Abunawas.
"Saya ingin mencari sandal yang bisa merubah hidupku yang miskin ini," jawab pemuda itu.
"Apa maksud Tuan?" tanya Abunawas lagi.
"Saya ini sudah lama hidup miskin dan ingin sekali kaya raya. Saya ingin membeli barang yang bisa memberikan saya keberuntungan," kata pemuda itu.

Sejurus kemudian Abunawas menunjukkan salah satu sandal ajaibnya. Ia mengatakan bahwa sandal itu akan membikin penggunanya dari tak punya menjadi orang yang punya. Karena tertarik, pembeli itu akhirnya jadi juga membeli sandal ajaib itu dengan harga yang lumayan mahal.

Si pemuda langsung saja memakai sandal ajaib itu berkeliling kampung dengan harapan semoga keberuntungan segera berpihak kepadanya. Akan tetapi, harapannya tak kunjung terwujud. Jangankan keberuntungan, si pemuda malah dikira pencuri di kampung tersebut. Untung saja para warga tak sampai menghakiminya.

Karena merasa tertipu, pemuda itu kembali lagi menemui Abu Nawas untuk protes.
"Assalamu'alaikum..." sapa pemuda itu.
"Wa'alaiukm salam..., eh ternyata Tuan, bagaimana kabar Tuan?" tanya Abu Nawas.
"Kabar jelek. Aku selalu ditimpa kemalangan gara-gara sandal ini. Padahal dulu engkau mengatakan kalau sandal ini bisa mendatangkan keberuntungan, bisa menjadi kaya dan terkenal, tapi mana buktinya?" protes si pembeli.

"Seingat saya, saya tidak pernah mengatakan seperti itu Tuan?" sergah Abu Nawas.
"Saya hanya mengatakan bahwa bila Tuan pada mulanya orang yang tidak punya, maka dengan membeli sandal ini Tuan akan menjadi orang yang punya. Buktinya sekarang Tuan sudah memiliki sandal ajaib ini," kata Abu Nawas.

Begitu mendengar penuturan Abunawas, pemuda itu hanya bisa diam, ia menyadari bahwa dirinya sedang salah tafsir.
"Lalu mengapa engkau mengatakan bahwa sandal ini ajaib?" tanya pembeli.
"Karena merk sandal ini adalah ajaib, sandal ajaib," jawab Abunawas.

Akhirnya pemuda itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Tunggu Tuan, saya ingin mengatakan sesuatu kepada Tuan. Mungkin saja akan ada manfaatnya," kata Abu Nawas.

"Jangan percaya kepada barang ajaib, karena percaya pada sesuatu selain Allah SWT bisa membuat kita syirik dan akan mendapatkan kesusahan di dunia dan akhirat kelak. Buktinya sebagaimana yang Tuan alami ini, oleh karena itu, segeralah bertobat kepada Alloh SWT," kata Abu Nawas.

Mendengar penuturan Abu Nawas, sepertinya pemuda itu menyadari kesalahannya. Ternyata banyak sekali hal-hal yang bisa membawa kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT.
Mulai saat itulah ia bertobat kepada Allah SWT.

Abu Nawas dan telur unta



 
cerita Abu Nawas
Dari banyaknya cerita Abu Nawas , cerita Abu Nawas dan Telur Unta ini tidak kalah menariknya dengan cerita Abu Nawas yang lainnya. Dari judulnya saja udah aneh. Hahaha ... Berikut cerita lucunya: Pada suatu ketika Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit yang aneh. Semua tubuh Raja Harun Al Rasyid terasa pegal dan kaku, badanya panas dan susah untuk bergerak. Penyakit itu semakin bertambah parah dikarenakan sang Raja tidak mau memakan makanannya. Banyak tabib didatangkan untuk mengobati penyakit Sang Raja, namun tak ada satupun yang bisa mengobati. Sudah banyak pula obat yang diminum tetpai masih belum bisa mengobati penyakitnya. Sang Raja tidak mau menyerah dengan penyakitnya, Raja masih berkeinginan untuk sembuh. Maka pengawalnya diutus untuk mengadakan sebuah sayembara. Yang bisa menyembuhkan penyakit Sang Raja akan diberikan hadiah. Kabar sayembara itu terdegar oleh Abu Nawas, ia pun tertarik dengan sayembara itu. Tidak lama kemudian si Abu Nawas memutar otak dan pergi menuju ke Istana Raja Harun Al Rasyid. Setelah tiba di istana, sang raja terkejut melihat si Abu Nawas datang untuk mengobati dirinya. "Abu Nawas, setahuku engkau bukan lah seorang tabib, tapi mengapa engkau mengikuti sayembara ini?"Tuan Raja janganlah lihat penampilanku saja, begini-begini aku juga bisa obati orang sakit. "Benarkah? Berarti engkau bisa sembuhkan penyakitnya juga. "Oh, tentu saja bisa tuan Raja. Sebenarnya apa penyakit Raja? "Aku juga tidak tahu, tetapi seluruh tubuh dan badanku terasa sakit semua, keluh sang Raja "Ha ha ha ha ... Abu Nawas malah tertawa. "Hei apanya yang lucu, kata sang raja. "Tidak tuan, kalo penyakit itu gampang sekali obatnya. "Benarkah, kaget sang raja. Apa nama obatnya dan dimana aku bisa mendapatkannya. "Obat itu adalah telur Unta, dan Anda bisa mendapatkannya dikota Baghdad ini. Mendengar kata-kata Abu Nawas, sang Raja merasa bersemangat dan ingin mendapatkan telur Unta itu. "Hei Abu Nawas, awas kalo kamu sampai berbohong. akan kuhukum kamu kata sang Raja."Cari dulu telur Unta itu, jangan asal hukum saja" kata Abu Nawas. Keesokan harinya sang Raja berangkat dengan pengawalnya, Ia menyamar menjadi rakyat biasa karena tidak ingin diketauhi kalau dia seorang Raja. Raja pergi ke pasar-pasar disekitar Baghdad, tetapi belum menemukan telur Unta. Raja tidak mau menyerah dan mencarinya kerumah-rumah warga tetapi dia belum menemukan juga. Semangat Raja Harun Al Rasyid sangat kuat sekali, ia tidak peduli jarak yang telah ditempuhnya. Hingga akhirnya tiba di sebuah hutan. Raja terus berjalan tanpa hiraukan pengawalnya yang sudah kelelahan, sambil menggerutu ia tetap berpikir dimana telur itu berada. "Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan kuhukum kau! "gerutu raja. Penggawal bersiaplah untuk menghukum Abu Nawas besok!". "Siap Raja" kata pengawal yang sudah kelelahan. "Tetapi kita sebaiknya kembali ke Istana, sepertinya kita tidak menemukan telur itu". Raja Harun Al Rasyid mempertimbangkan saran sang pengawal, beberapa saat kemudian ia melihat seorang kakek yang sedang membawa ranting. "Tunggu pengawal, kita coba tanya pada kakek itu" kata Sang Raja. Sang Raja Harun Al Rasyid menhampiri kakek yang membawa ranting itu, melihat kondisi si kakek yang udah tua ia sangat kasihan, maka ia pun menawarkan jasa untuk membawa kayu-kayu itu. Setelah sampai dirumah kakek tadi, sang kakek berterimakasih kepada Raja Harun Al Rasyid yang ia tidak mengira bahwa ia adalah seorang raja."Terima kasih cuk, semoga Allah membalas kebaikan cucuk" "Sama-sama kek" kata raja. "Oh iya kek, saya mau bertanya, apakah kakek punya telur Unta "tanya raja pada si kakek "Telur Unta?" si kakek pun berpikir sejenak. "Hahahahaha ..." tawa si ​​kakek. Raja Harun Al Rasyid pun heran dan bertanya apda sang kakek. "Apa saya salah tanya kek" tanya raja keheranan. "Bisa kakek jelaskan?" "Cuk, didunia ini mana ada telur Unta, setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan bukan bertelur, jadi mana ada telur Unta. Mendengar penjelasan sang kakek membuat sang raja dan pengawalnya tersentak kaget. "Benar juga mana ada telur unta , unta kan binatang melahirkan bukan bertelur "gumam sang raja. "Awas kau Abu Nawas"Keesokan harinya sang raja dengan kesalnya menunggu Abu Nawas yang telah mengerjainya, mondar-mandir kesana-kemari sambil komat-kamit. "Awas kau Abu Nawas! awas kau Abu Nawas! ' Beberapa saat kemudian si Abu Nawas datang ke Istana. Ia memberi senyum jenakanya kepada raja, Raja Harun Al Rasyid langsung memarahinya "Hai Kau Abu Nawas, beraninya kau mengerjai ku, aku tidak bisa terima ini. Dengan kesepakatan kita bahwa Aku akan menghukummu karena kamu telah membohongi aku, mana ada telur unta sedangkan unta itu kan hewan yang melahirkan. "Anda benar Tuan Raja, kata Abu Nawas membenarkan pernyataan sang raja, telur unta itu sebenarnya tidak ada, unta hewan yang melahirkan dan bukan bertelur. "Lantas, mengapa kau menyuruhku untuk menemukan telur itu?" sanggah raja. "Pokoknya sekarang kamu dihukum""Tunggu dulu Tuan Raja, sebelum saya dihukum, saya ingin bertanya" "Tanya apa" kata raja "Bagaimana kondisi tubuh Tuan Raja hari ini? tanya si Abu Nawas."Kondisi badanku, aku merasa tubuhku tidak pegal dan sakit seperti kemaren, sang raja pun terdiam sejenak. "Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitnya hilang, penyakitnya hilang Abu Nawas." raja sangat gembira. "Aku tahu, perjalananku yang amat jauh kemaren telah membuat tubuhku yang tadinya jarang bergerak menjadi bergerak dan itu membuat aliran darahku yang beku menjadi lancar kembali" itu penyebabnya, terima kasih Abu Nawas "kata sang raja "Benar tuan, Kata Abu Nawas, tubuh yang tidak dibiasakan bergerak akan membuat darah membeku dan menjadi penyakit, maka dari itu raja rajin-rajinlah bergerak " "Abu Nawas maafkan aku telah memarahimu, aku tidak akan menghukummu tapi aku akan berikan hadiah karena telah memberiku saran yang luar biasa. " Terima kasih tuan raja "jawab Abu Nawas. Dari cerita Abu Nawas diatas banyak makna dan pembelajaran yang kita peroleh.